Konsultanpajak.or.id – Pajak untuk Freelancer: Lo Kerja Bebas, Tapi Pajak Tetap Punya Aturan, Lo bangun siang bukan karena malas. Tapi karena semalam lo revisi konten sampai jam dua pagi. Laptop lo selalu standby. Klien lo datang dari DM, dari email, kadang dari obrolan grup. Hidup lo fleksibel. Lo kerja dari mana aja. Tapi satu hal tetap nempel kayak notifikasi sistem yang gak bisa di-swipe: pajak.
Lo pikir, karena lo bukan karyawan tetap, lo gak perlu lapor. Lo pikir, karena kerjaannya kecil-kecilan, gak bakal kena pantauan. Padahal setiap transfer yang masuk ke rekening, apalagi dari entitas bisnis, bisa dicatat. Dan ketika DJP udah masuk ke era digital, lo yang kerja online tetap bisa kena spotlight.
Freelancer bukan berarti bebas dari pajak. Tapi lo bisa bebas dari stres pajak — asal lo ngerti cara mainnya.
Pertama lo harus ngerti, penghasilan dari freelance itu tetap masuk kategori penghasilan kena pajak. Entah lo bikin desain, nulis caption, coding landing page, atau nge-MC virtual event. Semua itu dianggap jasa. Dan jasa kena pajak. Kalau lo dapet bayaran dari klien lokal, kemungkinan besar mereka akan potong PPh 21 atau PPh 23. Tapi… banyak juga yang gak potong sama sekali. Dan kalau lo dapet bayaran dari luar negeri, jelas mereka gak motong. Artinya: lo yang harus setor sendiri.
Masalahnya, sebagian besar freelancer gak catat penghasilannya. Lo cuma tahu dapet duit. Tapi gak tahu jumlah totalnya. Dan saat SPT datang di bulan Maret, lo buka DJP Online sambil ngeraba-raba.
Itu awal dari banyak freelancer kena masalah. Bukan karena lo niat ngelawan. Tapi karena lo gak nyiapin. coba cek Panduan Pajak disini
Sekarang lo udah tahu. Yang bisa lo lakuin?
Pisahin rekening pribadi dan rekening kerjaan. Semua income freelance masuk ke satu tempat. Lo jadi bisa tracking. Setiap invoice masuk, catet. Pakai Google Sheet kalau belum punya software. Dan tiap dapet bukti potong, simpan. Scan. Upload ke Google Drive. Jangan hilangin.
Terus, soal pajaknya: lo bisa pakai dua pendekatan.
Pertama, metode final. Ini cocok kalau lo pengen yang simple. Biasanya untuk UMKM atau jasa tertentu dengan omzet di bawah 4,8M per tahun. Pajaknya 0.5% dari omzet.
Kedua, pakai tarif progresif. Ini metode umum. Penghasilan dikurangin biaya, lalu kena tarif bertingkat. Lo bisa pilih, tapi harus konsisten dan sesuai profil.
baca juga
- Pajak Jasa Maklon yang Sering Ke-skip Sama Pebisnis
- Peran Penting PJAP Buat Era Baru Pajak Digital
- Meterai Bukan Stiker Lucu, Bro!
- Apakah AI Training Data Kena Pajak?
- Pajak IoT Data
Kalau lo dapet penghasilan dari luar negeri, jangan nunggu DJP tahu duluan. Laporkan. Tapi lo bisa cek apakah negara asal klien lo punya tax treaty dengan Indonesia. Kalau iya, bisa ada pengurangan atau pengecualian tertentu. Kalau enggak, ya lo harus bayar sesuai aturan.
Dan satu hal penting: lapor SPT Tahunan setiap tahun. Minimal, lo isi data penghasilan dan bukti potong. Jangan ngarep klien lo bantu urus. Ini tanggung jawab lo.
Kalau lo kerja lepas, bukan berarti kerja ngawur. Dan kalau lo ngerasa sibuk banget sampai gak sempat ngurus pajak, jangan tunggu denda datang. Cari partner. Konsultan pajak. Orang yang bisa bantu lo tracking, ngitung, dan lapor.
Lo kerja keras buat hidup lo. Jangan sampai kebobolan cuma karena lo lupa ngisi angka.
Pajak bukan hal yang lo hindarin. Tapi hal yang bisa lo atur. Dan begitu lo ngerti cara mainnya, pajak gak lagi jadi ancaman. Dia jadi alat. Buat lo keliatan profesional. Buat lo dipercaya. Dan buat lo naikin kelas dari sekadar freelance… jadi bisnis yang siap tumbuh.
apor secara mandiri kalau bisnis lo udah masuk skala tertentu.
Apalagi kalau lo juga punya penjualan dari website sendiri. Di situ, lo yang pegang semua. Dan lo yang harus tau: kapan lo kena PPN. Kapan harus daftar PKP. Kapan omzet lo udah masuk zona merah.
Ada juga PPh Final 0.5% kalau lo masih UMKM. Tapi jangan sampai lo kira semua otomatis. Karena beda platform, beda aturan. Penjualan di marketplace dan via WhatsApp gak bisa lo campur asal-asalan. Semua harus dipisah. Diatur. Dicatat.
Dan kalau lo dapet penghasilan dari luar negeri? Dropship dari supplier China? Affiliate program dari luar? Lo masuk ke wilayah Pajak Digital dan PMSE. Sekarang DJP udah punya daftar platform digital asing yang wajib pungut PPN digital. Kalau lo dapet income dari sana, lo wajib lapor juga.
Yang sering bikin seller online jatuh bukan pajaknya. Tapi kebingungan mereka sendiri. Gak ngerti apa yang udah dipotong, apa yang belum. Gak ngerti harus setor ke mana. Akhirnya? Didiemin. Dan begitu surat teguran masuk, lo baru sadar semua data penjualan lo… udah ada di server mereka.
Mulai dari sekarang: bikin pemisahan antara akun pribadi dan bisnis. Pisahin transaksi by channel. Marketplace satu folder. Website sendiri. Affiliate luar negeri. Semua dicatat.
Kalau lo udah punya karyawan atau tim, pastiin juga lo ngerti PPh 21. Gaji lo ke admin dan CS juga bisa masuk ranah pajak.
Dan satu hal penting: jangan ngerasa lo bisa urus semuanya sendiri. Dunia e-commerce itu dinamis. Pajaknya juga. Lo butuh sistem. Bisa lo bangun sendiri. Atau lo gandeng konsultan pajak yang ngerti e-commerce. Biar lo gak cuma fokus ke revenue, tapi juga amanin bottom line lo.
Karena lo bisa dapet 100 juta sebulan, tapi kalau pajaknya gak diatur dari awal, lo bisa kehilangan kepercayaan buyer, partner, bahkan bank — hanya karena satu hal yang lo anggap teknis: laporan pajak.


