Pajak untuk Dropshipper dan Reseller : Lo Gak Punya Stok, Tapi Pajaknya Tetap Nempel

konsultanpajak.or.id Pajak untuk Dropshipper dan Reseller: Lo Gak Punya Stok, Tapi Pajaknya Tetap Nempel. Lo gak punya gudang. Lo gak pegang barang. Tapi lo bisa jualan puluhan order sehari dari satu HP. Pagi ngurus order Tokopedia, siang follow up WhatsApp, malam posting katalog baru. Lo dropshipper. Lo reseller. Dan sistem lo efisien. Tapi ada satu hal yang gak bisa lo skip: pajak.

Banyak dropshipper dan reseller ngira karena mereka cuma “numpang jualan”, mereka aman dari pajak. Gak punya brand sendiri. Gak ada toko fisik. Gak masalah.
Padahal justru karena semua serba digital, semua data lo terekam jelas. Platform nyimpen. Payment gateway nyimpen. Bank nyimpen. Dan DJP bisa baca semuanya.

Jadi pertanyaannya bukan “kena pajak atau enggak”.
Tapi “lo siap lapor atau nunggu ditegur?”

Pajak pertama yang nempel di lo adalah PPh Final 0,5% dari omzet.
Selama lo belum jadi PKP, dan omzet lo masih di bawah 4,8 miliar per tahun, lo bisa pakai skema UMKM ini.
Mudahnya: semua penjualan lo dalam sebulan dikali 0.5%. Itu yang lo setor ke negara.

Tapi banyak yang gak tau bahwa ini tetap wajib lapor. Banyak juga yang gak nyetor sama sekali karena ngerasa cuma jualan kecil-kecilan. Padahal kalau lo totalin transaksi marketplace, bisa tembus belasan juta per bulan. Dan data itu bisa dicek.

Kalau lo udah gedein skala: nyetok barang, rekrut admin, kerja sama sama supplier luar negeri, atau bikin tim reseller sendiri, lo udah masuk ranah badan usaha. Dan saat itu, lo perlu mulai mikirin NPWP Badan, PPN, dan laporan bulanan.

Lo juga perlu tau, kalau lo kasih komisi ke anak reseller, itu juga penghasilan mereka. Lo harus ngerti apakah itu perlu dipotong pajak.
Dan kalau lo beli barang dari luar negeri, kirim barang ke luar negeri, atau jualan ke buyer luar negeri, lo udah main di wilayah pajak digital dan potensi ekspor — yang punya aturan main sendiri.

Masalah klasik dropshipper dan reseller bukan pajaknya berat. Tapi sistemnya gak ada.
Catatan transaksi nyampur. Gak ada pembukuan. Semua omzet masuk ke rekening pribadi, jadi pas bikin laporan gak jelas mana untuk usaha, mana bukan.

baca juga

Kalau lo kerja sama dengan marketplace besar, seperti Shopee atau Tokopedia, sebagian PPN dan potongan pajak udah diurus platform. Tapi lo tetap harus cek, minta laporan bulanan, dan pastiin lo lapor sesuai realitas.

Dan satu hal penting: jangan ngira lo bisa ngilang.
Karena sekarang DJP punya akses ke sistem payment, marketplace, bahkan integrasi ke API platform.
Mereka bisa liat siapa yang aktif transaksi tapi gak pernah setor. Dan sekali lo masuk radar, semua akan ditarik ke belakang.

Tapi bukan berarti lo harus takut.
Kalau lo masih kecil, lo bisa mulai dari nyicil sistem.
Rekap order. Pisahin rekening. Simpan struk. Simpan invoice.
Dan kalau lo udah mulai naik, kerja sama sama konsultan pajak yang ngerti bisnis model dropship atau reseller. Yang tau cara setor, cara lapor, dan cara bikin lo tetap aman.

Karena dropshipper itu bukan dagang coba-coba.
Banyak yang dari nol, sekarang jadi pemilik brand. Tapi buat bisa sampai sana, lo harus jalanin semua dengan rapi. Pajak itu bagian dari proses naik level. Bukan beban, tapi bukti bahwa lo serius.

Kalau lo bisa jaga cashflow, bikin konten, handle komplain, lo pasti bisa pelan-pelan urus pajak.
Dan sekali lo ngerti, lo bisa scaling dengan kepala tenang.
Gak takut dicek. Gak takut dicegat. Gak takut surat.

Karena lo bukan cuma jualan barang orang.
Lo bangun sistem sendiri. Dan sistem yang kuat selalu dimulai dari hal paling dasar: lo ngerti cara main pajak di bisnis lo.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top