konsultanpajak.or.id Dampak Divestasi bagi Para Investor , Gak jarang banget, banyak orang penasaran soal dampak divestasi, apalagi bagi investor. Kalau ngomongin divestasi, intinya adalah cara perusahaan atau investor mengurangi kepemilikan aset yang mereka punya, baik itu saham, tanah, atau apapun yang berkaitan dengan investasi. Kalo dipikir-pikir, divestasi tuh gak selalu tentang kerugian, tapi bisa juga berdampak positif. Intinya, meskipun bukan kerugian langsung, divestasi punya efek yang cukup signifikan. Ada yang langsung terasa, ada juga yang gak langsung, tergantung gimana investor melihat dan mengelola dampaknya. Jadi, yuk simak dampak divestasi ini!
1. Kembalinya Dana Investasi
Jadi, dampak pertama dari divestasi adalah kembalinya modal awal yang diinvestasikan dengan cepat. Gimana bisa? Misalnya, investor yang memutuskan untuk melepas aset yang mereka punya, mereka akan langsung ngerima uang modal mereka kembali. Tapi jangan salah, ini bisa jadi nggak selalu menguntungkan, loh. Apalagi kalo duit modal itu seharusnya diputar jadi keuntungan. Maka dari itu, investor harus siap mencari instrumen investasi lainnya buat dapetin profit lebih.
2. Pengurangan Pendapatan
Divestasi bisa bikin pendapatan investor berkurang. Kok bisa? Nah, waktu investor investasi, biasanya mereka dapet passive income secara rutin, entah itu berupa dividen atau return lainnya. Ketika mereka divestasi, berarti salah satu sumber pendapatan mereka hilang. Jadi, bayangin aja kalo mereka udah kebiasa terima pendapatan pasif dari aset yang mereka punya, terus tiba-tiba aset itu lepas, ya sumber income mereka pasti ilang juga. Tapi… kalau investor udah mulai rugi, divestasi bisa jadi cara yang paling oke biar kerugian gak makin parah.
3. Kehilangan Hak Kepemilikan
Dampak selanjutnya dari divestasi adalah hilangnya hak kepemilikan perusahaan. Waktu investor mulai berinvestasi di perusahaan, mereka punya hak tertentu atas perusahaan itu, tergantung seberapa banyak saham yang mereka beli. Nah, kalau divestasi, otomatis hak itu hilang. Kepemilikan perusahaan bisa beralih ke investor lain yang beli saham tersebut. Jadi, dari yang semula punya kuasa, tiba-tiba udah gak punya apa-apa lagi.
4. Potensi Redistribusi Kekayaan
Divestasi juga membuka potensi redistribusi kekayaan. Misalnya, hasil dari penjualan aset yang divestasikan bisa digunakan buat hal lain yang lebih produktif. Ini bisa jadi keuntungan baru bagi investor, asal semuanya dihitung dengan cermat dan dilakukan dengan analisis yang tepat. Kalau enggak, bisa jadi malah merugi. Jadi, penting banget sebelum melakukan divestasi, pastikan langkah ini bisa memberi keuntungan jangka panjang.
Metode Divestasi
Divestasi gak cuma soal keluarin modal, ada beberapa cara atau metode buat ngerjainnya. Setiap metode punya cara dan tujuan yang beda-beda. Yuk, simak beberapa metode divestasi yang umum dipakai!
1. Direct Selling
Metode ini adalah yang paling sederhana dan banyak dipakai. Kenapa? Karena dalam metode ini, investor langsung jualan asetnya atau saham yang mereka punya ke pembeli. Misalnya, saham atau unit bisnis, atau bisa juga berupa penjualan aset perusahaan. Metode ini langsung ngasih profit, karena harga jualnya jelas dan investor dapet uang secara tunai.
2. Spin-Off
Metode spin-off ini adalah cara dimana satu divisi atau unit bisnis dari perusahaan besar dilepas jadi entitas terpisah. Meskipun sahamnya masih tetap dimiliki oleh investor lama, tujuan utamanya adalah efisiensi biaya. Nggak kayak direct selling yang langsung dapet profit, spin-off ini lebih ke pengelolaan yang lebih efisien.
baca juga
- Pajak Jasa Maklon yang Sering Ke-skip Sama Pebisnis
- Peran Penting PJAP Buat Era Baru Pajak Digital
- Meterai Bukan Stiker Lucu, Bro!
- Apakah AI Training Data Kena Pajak?
- Pajak IoT Data
3. Carve-Out
Dengan metode carve-out, cabang dari perusahaan induk yang udah punya pengaruh besar, akhirnya dilepas jadi entitas baru yang berdiri sendiri. Biasanya saham perusahaan cabang ini ditawarkan ke publik. Tapi, gak semua cabang bisa dipisah begitu aja, loh! Harus dipastikan dulu apakah cabang itu siap berdiri sendiri dan punya branding yang kuat.
4. Tracking Stock
Metode tracking stock mirip banget sama carve-out, tapi ada perbedaan penting: perusahaan induk nggak menjual saham unit bisnisnya sepenuhnya. Mereka tetap punya kontrol mayoritas di perusahaan cabang itu. Dengan kata lain, mereka nggak lepas sepenuhnya dari unit bisnis tersebut, dan tetap bisa mengendalikan saham terbesar.
Divestasi itu emang bisa jadi strategi yang bikin untung besar, tapi juga penuh risiko. Jadi, penting banget buat para investor atau perusahaan untuk memahami dampak divestasi dan memilih metode yang tepat. Jangan sampai salah langkah yang malah bikin merugi.
penulis tamu dari IDTAX.OR.ID


