konsultanpajak.or.id Pajak untuk Startup: Kalau Growth Lo Gak Diatur, Pajak Bisa Jadi Bumerang. Lo baru dapet pendanaan tahap awal. Founding team solid. Produk dapet traksi. Investor senyum. Tapi satu hal lo pending: pajak.
Lo mikir, “Nanti aja, kita masih early.”
Tapi sistem negara gak nunggu lo scale.
Dan di titik lo mulai transaksi serius, punya karyawan, dan kirim invoice ke brand besar — semua mata, termasuk DJP, mulai ngelirik.
Startup itu beda dari usaha biasa.
Lo bakar uang, bukan langsung cari untung. Lo prioritas growth, bukan margin. Tapi justru karena model bisnis lo disruptif, lo butuh sistem yang lebih disiplin.
Pajak buat startup bukan soal bayar lebih atau kurang. Tapi soal strategi.
Pertama, lo harus tau entitas lo jalan di bawah apa. Lo bentuknya PT? Punya NPWP Badan? Daftar PKP belum?
Kalau lo belum, lo bisa kehilangan kredibilitas pas pitching. Banyak investor akan minta due diligence: laporan keuangan, histori perpajakan, dan compliance. Dan kalau lo gak punya sistem yang bisa dibaca, deal bisa drop.
Pajak yang paling sering dilewatkan oleh startup adalah PPh 21 untuk tim.
Lo kasih gaji ke developer, ke designer, ke admin. Tapi gak ada potong pajak, gak ada slip. Itu bisa jadi bom waktu. Karena saat due diligence, semua payroll akan diurai. Dan DJP bisa nanya, “Gaji ini udah disetor pajaknya?”
Kedua, kalau lo dapet revenue dari user, lo harus tau kapan lo kena PPN. Kalau model lo subscription, jualan digital product, atau platform SaaS, itu termasuk jasa kena pajak. Kalau omzet lo udah lewat 4,8 M per tahun, lo wajib PKP dan pungut PPN 11%.
Kalau lo dapet revenue dari luar negeri, lo harus ngerti tax treaty, dan gimana caranya lo atur PE (Permanent Establishment) biar gak kena pajak berganda. Startup digital yang go global tanpa ngerti pajak internasional, bisa kena koreksi ratusan juta.
Startup juga sering dapet penghasilan dari source yang gak langsung. Contohnya:
- Komisi partnership
- Interest dari dana idle
- Royalti IP atau konten
Semua itu penghasilan kena pajak. Dan kalau gak dicatat, lo bisa dianggap sembunyiin pendapatan.
Satu lagi: equity compensation.
Kalau lo kasih ESOP (Employee Stock Option Plan) ke tim lo, atau lo share saham ke co-founder, itu juga punya dampak pajak. Baik buat lo, perusahaan, maupun orang yang nerima. Dan kalau lo gak ngerti kapan itu kena pajak, lo bisa masuk skema yang bikin tim lo malah rugi waktu exit.
baca juga
- Pajak Jasa Maklon yang Sering Ke-skip Sama Pebisnis
- Peran Penting PJAP Buat Era Baru Pajak Digital
- Meterai Bukan Stiker Lucu, Bro!
- Apakah AI Training Data Kena Pajak?
- Pajak IoT Data
Solusinya bukan jadi takut. Tapi jadi siap.
Bangun sistem pencatatan. Rekap semua transaksi. Simpan invoice. Punya sistem payroll. Pisahin rekening pribadi dan bisnis. Jangan semua masih via spreadsheet tanpa kontrol.
Kalau udah masuk fase seed atau pre-series A, lo perlu konsultan pajak yang ngerti skenario startup. Yang ngerti model bisnis yang rugi dulu, tapi tetap harus lapor. Yang ngerti kapan lo bisa claim biaya R&D sebagai beban, dan kapan lo bisa minta insentif fiskal.
Karena di dunia startup, yang bikin jatuh bukan cuma gagal produk. Tapi gagal administrasi. Banyak deal gagal closing bukan karena traction lemah — tapi karena pajak dan keuangan lo berantakan.
Jadi sebelum lo lari lebih kencang, pastikan struktur perpajakan lo udah bener.
Bukan buat keren. Tapi biar lo bisa grow tanpa takut jatuh pas lo udah tinggi.
Pajak buat startup itu bukan beban. Tapi alat bukti.
Kalau lo ngerti cara atur, lo bukan cuma taat.
Lo jadi lebih meyakinkan. Dan lo jadi lebih siap buat scale global.


