Apa itu PPh 21 PPh 23 dan PPN? Biar Lo Gak Kena Potong Buta-Buta

konsultanpajak.or.id Apa itu PPh 21, PPh 23, dan PPN? Biar Lo Gak Kena Potong Buta-Buta. Lo buka invoice dari klien. Jumlahnya sesuai. Tapi pas dana cair ke rekening, kepotong segitu persen. Lo baca catatan: “sudah termasuk PPh 23.”
Lo bengong. Pajak lagi. Tapi yang mana? Kenapa segini? Harusnya siapa yang bayar?

Itu titik di mana lo sadar, bukan cuma kerjaan yang harus lo kuasai — tapi juga sistem yang ada di sekitarnya. Termasuk soal pajak.

Karena yang bikin rugi bukan besarannya. Tapi ketidaktahuan lo tentang kenapa dan bagaimana cara mainnya.

PPh 21: Potongan Buat yang Punya Penghasilan

Kalau lo kerja sebagai karyawan, atau freelancer yang dapet honor, fee, bonus, atau penghasilan personal lainnya, lo pasti bersentuhan sama PPh 21.
PPh 21 adalah pajak penghasilan atas penghasilan orang pribadi.

Misalnya lo kerja kantoran dan dapet gaji tetap, perusahaan lo yang akan potong PPh 21 dan bayarin ke negara.
Kalau lo freelance dan dapet honor dari event atau proyek, bisa jadi penyelenggara akan potong PPh 21 sebelum transfer ke lo.
Tapi ada juga yang gak potong — artinya lo yang harus bayar sendiri.

Tarifnya progresif, mulai dari 5% sampai 35% tergantung jumlah penghasilan lo dalam setahun.
Tapi ada Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), jadi gak semuanya langsung kena potong.

Masalah yang sering muncul?
Freelancer gak minta bukti potong.
Karyawan gak tau kenapa potongannya segitu.
Pengusaha pribadi gak ngerti kalau bonus dan THR juga bisa kena PPh 21.

PPh 23: Pajak yang Ngejar Lo Lewat Jasa

Lo bikin desain buat agensi, edit video buat brand, atau ngisi webinar buat perusahaan? Lo dapet penghasilan dari jasa. Dan jasa itu… kena PPh 23.

PPh 23 dipotong oleh pemberi kerja sebelum mereka transfer fee ke lo.
Besarnya 2% dari total pembayaran (sebelum PPN, kalau ada).
Mereka wajib potong, setor, dan kasih lo bukti potong.

Kalau mereka gak kasih bukti? Lo tetap wajib lapor. Tapi lo gak bisa klaim itu udah dibayar. Dan itu bikin lo rugi.
Lo bisa jadi bayar dua kali pajak buat satu transaksi karena data lo gak lengkap.

Jadi penting banget buat minta bukti potong PPh 23 dari tiap klien — dan simpan sebagai dokumen resmi pas lapor SPT.

baca juga

PPN: Pajak yang Lo Pungut dari Customer

Lo jual barang atau jasa? Bukan cuma dapet untung, lo juga bisa jadi perpanjangan tangan negara lewat PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

PPN dikenakan 11% atas penyerahan barang atau jasa kena pajak.
Tapi gak semua orang wajib pungut.
Lo baru wajib jika lo udah jadi PKP (Pengusaha Kena Pajak) — biasanya kalau omzet lo udah lebih dari 4,8 M per tahun.

Marketplace seperti Tokopedia atau Shopee udah otomatis potong dan setor PPN. Tapi kalau lo jualan via website sendiri? Lo harus pungut sendiri, setor, dan bikin e-Faktur tiap bulan.

Masalah yang sering muncul?
Orang udah layak jadi PKP tapi belum daftar.
Jualan jalan terus tapi gak setor PPN.
Dan pas dicek, lo bisa kena koreksi dan sanksi.

PPh 21, PPh 23, dan PPN: Apa Bedanya?

PPh 21: buat penghasilan pribadi, biasanya dari gaji atau honor.

  • PPh 23: buat penghasilan dari jasa, potongannya dari pihak pemberi kerja.
  • PPN: bukan dipotong dari penghasilan lo, tapi lo pungut dari customer kalau lo jual barang atau jasa.

Tiga-tiganya bisa jalan bareng. Lo bisa dapet fee dari jasa (kena PPh 23), lo juga bisa digaji (kena PPh 21), dan lo bisa jual produk (kena PPN).
Dan semuanya bisa bikin lo pusing… kalau lo gak paham struktur dasarnya.

Lo gak harus jadi ahli pajak. Tapi lo harus ngerti logika dasarnya.
Pajak itu bukan jebakan. Tapi sistem. Dan sistem itu bisa lo atur — asal lo ngerti cara mainnya.
Tahu kapan lo kena potong. Tahu berapa yang harus lo setor. Tahu siapa yang harus lo mintain bukti.

Karena pada akhirnya, yang bikin lo aman bukan karena lo bayar pajak…
Tapi karena lo paham kenapa lo bayar.

Pajak Digital (PPN PMSE): Era Baru Dimana Semua Transaksi Digital Lo Kena Pajak

Lo lagi scroll marketplace digital. Beli template dari Creative Market, upgrade Zoom account, bayar hosting buat website. Semua tampak biasa aja, sampai lo liat invoice dan ada tambahan 11%. PPN Digital.

Lo diem.
Beli software aja kena pajak?
Langganan cloud storage aja dipajakin?

Jawabannya: iya.
Dan ini bukan sekadar iseng negara narik uang. Ini hasil perubahan besar dalam dunia perdagangan global: PPN PMSE.

PMSE itu singkatan dari Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.
Intinya, semua transaksi jual-beli produk atau jasa digital, apalagi dari luar negeri ke Indonesia, sekarang ada pajaknya.

Dulu, yang dipajakin cuma jual beli barang fisik. Tapi sekarang, dunia berubah. Yang dijual bukan cuma barang. Tapi jasa. Akses. Hak pakai. Data.

Dan itu semua, kena PPN.

Sejak 2020, Indonesia mulai jalanin sistem ini.
Platform kayak Google, Netflix, Adobe, Canva, TikTok, Shopify — semua udah terdaftar sebagai pemungut PPN Digital di Indonesia.
Kalau lo bayar mereka, mereka otomatis pungut 11% dari lo.

Beli ads di Facebook? Ada PPN.
Langganan Spotify? Ada PPN.
Beli template WordPress? Ada PPN.
Upgrade kapasitas Google Drive? Ada PPN.

Lo gak bisa ngeles.
Sistem udah jalan otomatis.
Dan tiap transaksi udah include tambahan PPN.

Tapi ini baru setengah cerita.

Kalau lo sebagai individu pakai layanan ini buat pribadi, yaudah.
Tapi kalau lo pakai layanan ini buat usaha — hosting buat toko online, Canva buat desain produk, Zoom buat meeting klien — lo bisa klaim itu sebagai biaya usaha.

Artinya, PPN yang lo bayar bisa lo input sebagai beban pengurang pajak.

Kalau bisnis lo udah PKP, PPN itu bisa dikreditkan.
Kalau belum, minimal, biaya langganan lo jadi sah buat nurunin pajak penghasilan.

Tapi syaratnya satu: administrasi rapi.
Invoice lengkap. Nama sesuai. Bukti pembayaran jelas.

Masalahnya banyak pelaku bisnis digital di Indonesia masih males urus dokumen digital.
Beli tools, bayar subscription, tapi invoice-nya diabaikan.
Pas audit? Gak bisa buktiin biaya itu. Akhirnya, pengeluaran lo gak dianggap.

Beda ceritanya kalau lo rajin catat.
Rajin simpan invoice.
Rajin cek transaksi.

Dan satu hal lagi yang harus lo tahu: kalau lo sendiri jualan produk digital atau jasa ke luar negeri, pajak digital ini juga ngelindungin hak lo.

Asal semua jalur resmi, lo bisa dapet perlakuan pajak yang lebih jelas, termasuk kalau jualan lo masuk kategori ekspor jasa.

PPN PMSE itu bukan buat nyusahin. Tapi buat ngejagain fairness.
Karena sekarang, produk digital pun nilainya real. Dan perputarannya udah kayak barang fisik.

Era digital itu bukan masa depan. Itu sekarang.
Dan sekarang, semua udah ada sistemnya.
Kalau lo ngerti jalannya, lo gak cuma taat pajak — lo bisa manfaatin pajak buat optimasi bisnis lo.

Yang rugi itu bukan orang yang bayar pajak.
Yang rugi itu orang yang gak ngerti kapan dan gimana caranya bayar dengan bener.Jadi mulai hari ini, setiap kali lo bayar subscription, upgrade fitur, beli template, jangan cuma klik “Pay Now” lalu lupa.
Simpen invoice-nya. Catat transaksi digital lo.
Karena di dunia pajak modern, jejak digital lo… sama pentingnya kayak jejak penghasilan lo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top