http://konsultanpajak.or.id/ PPh 23? Gimana Sih Cara Kerjanya? Oke, jadi gini… PPh 23 tuh sebenernya bukan hal yang asing, kan? Pasti udah sering denger, apalagi buat lo yang sering berurusan dengan jasa, sewa, atau bahkan bunga. Tapi, buat lo yang masih ngawang-ngawang tentang PPh 23, sini kita bahas tuntas.
Jadi, PPh 23 itu kayak pajak yang dikenakan buat beberapa jenis penghasilan. Misalnya, lo sewa barang, dapet bunga, atau bayar jasa—terus si pemberi jasa atau penyedia barang yang lo bayar itu dipotong PPh 23. Iya, dipotong, bro! Bukan cuma dipotong, tapi potongan ini yang bikin dunia perpajakan Indonesia berfungsi dengan rapi.
Apa Sih PPh 23 Itu?
PPh 23 tuh emang pajak penghasilan yang dikenakan buat penghasilan dari penyerahan jasa, sewa harta (kecuali tanah sama bangunan), bunga, dividen, royalti, hadiah, dan penghargaan. Kalau lo kerja di dunia bisnis, terutama yang terlibat dalam transaksi impor-ekspor, PPh 23 ini bakal sering banget jadi temen lo. Wajib ngerti deh!
Jadi, siapa yang motong? Yang motong ya si pemberi penghasilan itu sendiri. Misalnya, lo sewa properti atau bayar jasa konsultan, pihak yang lo bayar itu yang bakal motong langsung PPh 23 buat lo.
Siapa Aja yang Bisa Motong PPh 23?
Bukan semua orang bisa motong PPh 23 lo. Gak sembarangan orang bisa potong pajak lo, ya. Yang bisa motong ini biasanya badan pemerintah, badan usaha dalam negeri, penyelenggara kegiatan, dan beberapa orang tertentu yang udah ditunjuk DJP. Jadi, lo yang lagi ngejalanin bisnis, jangan asal terima jasa atau barang tanpa mikirin siapa yang motong pajak lo.
Berapa Tarif PPh 23?
Oke, sekarang kita ngomongin soal tarif PPh 23. Gak semua transaksi itu dikenain tarif yang sama, loh. Ada dua tarif utama yang harus lo tahu:
- 15%: Ini buat penghasilan dari bunga, dividen, hadiah, dan royalti.
- 2%: Ini buat penghasilan dari jasa dan sewa harta.
Gimana cara ngitungnya? Misalnya, lo bayar sewa untuk ruangan kantor, misalnya harga sewa per tahun adalah Rp 100 juta. Nah, tarif PPh 23 yang dikenakan adalah 2% dari harga sewa itu. Jadi, tinggal kalikan aja tuh: 2% x Rp100.000.000 = Rp2.000.000. Gitu deh cara kerjanya.
Tapi tunggu dulu! Kalau lo yang dipotong gak punya NPWP, tarif pajaknya bisa naik, lho! Bisa jadi 100% lebih tinggi. Jadi, kalau lo gak mau bayar lebih, pastikan punya NPWP, guys!
baca juga
- Pajak Jasa Maklon yang Sering Ke-skip Sama Pebisnis
- Peran Penting PJAP Buat Era Baru Pajak Digital
- Meterai Bukan Stiker Lucu, Bro!
- Apakah AI Training Data Kena Pajak?
- Pajak IoT Data
Pengecualian PPh 23
Tentu aja gak semua penghasilan itu kena PPh 23. Ada beberapa pengecualian yang perlu lo tahu, biar gak salah paham. Misalnya:
- Penghasilan yang dibayar ke bank.
- Sewa yang berhubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi.
- Dividen atau bagian laba yang diterima perusahaan dalam negeri, kayak PT, BUMN, atau koperasi.
- Bagian laba dari persekutuan atau firma.
- SHU koperasi yang dibayar ke anggota koperasi.
Dan ada beberapa penghasilan lainnya yang gak kena PPh 23, yang seharusnya lo cari tahu lebih lanjut biar gak salah bayar pajak.
Kenapa PPh 23 Itu Penting?
Lo pasti mikir, kenapa sih PPh 23 itu perlu banget dipahami? Nah, ini dia! Dengan ngerti PPh 23, lo jadi bisa lebih siap dan gak kebingungan waktu urusan pajak datang. Jangan sampai lo kena denda atau sanksi karena gak ngerti gimana cara kerja pajak yang satu ini. PPh 23 berperan besar dalam memastikan pajak yang lo bayar udah sesuai sama peraturan yang berlaku.
Tapi, Gimana Cara Hitung PPh 23-nya?
Misalnya, lo dapet penghasilan dari penyewaan tanah atau bangunan, terus lo sewa tanah dengan harga Rp 500 juta per tahun. Tarif PPh 23 yang berlaku adalah 2%. Berarti, lo tinggal kalikan aja 2% dari Rp 500 juta itu. Maka, PPh 23 yang harus dipotong adalah Rp 10 juta. Gampang kan?
Apa yang Harus Lo Lakukan?
Kalau lo yang dipotong pajak, maka lo tinggal terima aja potongan yang dilakukan. Tapi, lo juga harus tahu, jangan sampe ada penghasilan yang nggak kena potongan. Yang penting, lo pastikan status NPWP lo bener, biar gak kena potongan lebih tinggi. Karena kalo lo gak punya NPWP, tarifnya bakal naik lho.
Kesimpulan
Gak ada alasan lagi buat gak ngerti tentang PPh 23. Kalau lo pelaku usaha atau pekerja yang terlibat dalam jasa atau sewa harta, pasti bakal sering berurusan sama pajak ini. Yang penting, selalu pastikan siapa yang motong dan berapa tarifnya. Jangan sampai lo kena pajak lebih tinggi dari yang seharusnya.
Intinya, pahami aturan ini dengan baik dan jangan sampai lo ngelakuin kesalahan dalam pembayaran pajak. Sambil tetap stay up to date dengan peraturan yang berlaku. Jangan sampe kelabakan waktu pajak datang!


